Senin, 05 Agustus 2013

Teknik Sampling

Sampling (penarikan sampel) adalah suatu praktek statistik yang berhubungan dengan pemilihan observasi individual yang ditujukan untuk memahami populasi yang terkait, khususnya untuk kepentingan pembuatan inferensi statistik.


Proses sampling meliputi beberapa tahapan sebagai berikut:
1.     Memilih populasi
Populasi yang baik adalah populasi yang mencakup semua elemen yang terlibat; biasanya meliputi empat komponen, yaitu: elemen, unit sampling, keluasan cakupan, dan waktu.
2.     Memilih unit-unit sampling
Unit-unit sampling adalah unit analisis dari mana sampel diambil atau berasal.
3.     Memilih kerangka sampling
Kerangka sampling adalah daftar lengkap semua unsur/elemen dalam suatu populasi. Kerangka sampling dapat berupa daftar nama populasi, seperti: buku telepon, database kepegawaian, atau database nama lainnya.
4.     Memilih desain sampel
Desain sampel merupakan tipe metode/pendekatan yang digunakan untuk memilih unit-unit analisis studi. Desain sampel sebaiknya dipilih sesuai dengan tujuan penelitian atau didasarkan pada pengelompokkan secara Strata/Klaster dari beberapa variabel yang ditentukan oleh peneliti (Define Variables).
5.     Memilih ukuran sampel
Ukuran sampel (sample size) merupakan ukuran individual yang dimasukkan kedalam suatu penyelidikan/penelitian.
6.     Memilih rancangan sampling
Rancangan sampling menentukan prosedur operasional dan metode untuk mendapatkan sampel yang dinginkan.
7.     Memilih sampel
Tahap akhir dalam proses ini ialah penentuan sampel untuk digunakan pada proses penelitian berikutnya, yaitu koleksi data.
8.     Sampling (penarikan sampel) dan koleksi data
Sampling meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut.
·         mengikuti proses sampling yang sudah didefinisikan.
·         menyimpan data berurutan sesuai dengan waktu data input.
·         perhatikan komentar-komentar serta kejadian-kejadian lain dalam konteks yang sesuai dengan masalah yang diteliti.
·         catat pula jawaban-jawaban yang tidak diisi.

Desain sampling secara umum terbagi menjadi dua desain utama, yaitu desain probabilitas dan desain non-probabilitas. Pada penulisan ini diberikan rancangan sampling pada desain probabilitas sebagai berikut:
1.      Sampling Acak Sederhana (Simple Random Sampling), merupakan rancangan pengambilan sampel secara acak.
Contoh:
Untuk menarik sampel dalam rancangan sampling ini, dilakukan dengan menuliskan semua unsur populasi dalam secarik kertas, kemudian mengundinya sampai diperoleh jumlah yang dikehendaki (peneliti), misalkan penarikan sampelnya sebanyak 10 kali.
2.      Sampling Acak Sistematis (Systematic Random Sampling), merupakan rancangan sampling yang memiliki karakteristik bahwa unsur yang pertama dipilih secara random pada interval antara 1 dan N/n, kemudian unsur-unsur yang lain disesuaikan dengan rasio sampling (N/n).
Contoh:
Diketahui populasi sebesar 1000 dan sampel sebesar 40, sehingga diperoleh nilai rasio sampling, yakni 1000/40 = 25, misalkan diambil data pertama random sama dengan 10, maka urutan data berikutnya adalah 35, 60, 85, 110,…
3.      Sampling Acak Bertingkat/Strata (Stratified Random Sampling), merupakan rancangan sampling yang memiliki karakteristik bahwa terdapat pembagian populasi ke dalam beberapa kelas, kategori, atau kelompok. Karakteristik strata dapat berupa propinsi, kabupaten, kecamatan, desa, RW, RT, Kepala rumah tangga, jenis kelamin, status, usia, dan sebagainya. Sampling strata ada dua macam, yaitu:
a.       Strata Proporsional
b.      Strata Disproporsional
Dalam sampel strata proporsional, dari setiap strata diambil sampel yang sebanding dengan besar setiap strata. Angka yang menunjukkan berapa persen dari setiap strata diambil disebut pecahan sampling (sampling fraction). Pada sampel strata, pecahan sampling untuk setiap strata sama. Cara ini akan mengalami kesukaran bila ada sebagian strata yang jumlahnya terlalu kecil atau sebagian lagi terlalu besar. Misalkan jika ada 10000 orang mahasiswa dan 10 orang dosen, lalu dari setiap strata diambil 10%, maka akan diperoleh sampel yang terdiri dari 1000 orang mahasiswa dan 1 orang dosen.
Dalam kasus seperti ini disarankan metode sampling yang akan digunakan adalah strata disproporsional. Dalam kasus ini, dari setiap strata diambil jumlah sampel yang sama. Selanjutnya dalam analisis data, dan data untuk setiap strata dikalikan dengan bobot strata tersebut. Prosedur kedua metode ini dapat diikuti pada Tabel 1 dan Tabel 2.

Tabel 1
Sampel Berstrata Proporsional
Suku
Ukuran
% dalam
Pecahan
N
% dalam
Bangsa
Populasi
Populasi
Sampling
Sampel
Sampel






Jawa
10000
40%
0,10
1000
40%
Sunda
8000
32%
0,10
800
32%
Minang
5000
20%
0,10
500
20%
Batak
2000
8%
0,10
200
8%

----------
----------
----------
----------
----------

25000
100%

2500
100%
             Keterangan:
1)     Ditentukan jumlah sampel keseluruhan 2500 .
2)     Pecahan sampling untuk setiap strata adalah 2500/25000 = 0,10 .
3)     Setiap suku bangsa diwakili dalam suatu sampel proporsinya dalam populasi

Tabel 2
Sampel Berstrata Disproporsional
Suku
Ukuran
% dalam
Pecahan
N
Bobot
Bangsa
Populasi
Populasi
Sampling
Sampel







Jawa
10000
40%
0,063
625
15,87
Sunda
8000
32%
0,078
625
12,82
Minang
5000
20%
0,125
625
8,00
Batak
2000
8%
0,313
625
3,19

----------
----------
----------
----------
----------

25000
100%

2500

Keterangan:
1)     Ukuran sampel keseluruhan ditetapkan 2500 , ukuran sampel setiap strata adalah 2500 dibagi jumlah strata (4) sehingga ukuran sampel setiap strata adalah 2500/4 = 625.
2)     Pecahan sampling berbeda-beda pada setiap strata. Misalnya, untuk Jawa: 625/10000 = 0,063 .
3)     Karena sampel setiap strata tidak proporsional dengan strata harus dikalikan dengan bobot. Bobot diperoleh dari rumus 1/ps (1 dibagi pecahan sampling).
 4.   Sampling Kelompok/Klaster (Cluster Sampling), merupakan rancangan sampling kelompok dan dilakukan jika terdapat kelompok-kelompok alamiah dalam populasi.
Contoh:
Terdapat seorang peneliti kemampuan daya nalar anak-anak SD Kotamadya Surabaya. Dalam kasus ini peneliti tidak mungkin menghimpun semua anak SD dalam daftar. Jika daftar nama anak SD sukar dibuat, maka kelompok anak berdasarkan nama sekolahnya mudah dibuat. Kelompok anak itu disebut klaster. Klaster dapat berupa sekolah, kelas, kecamatan, desa, RW, RT, dan sebagainya. Jika klaster itu bersifat geografis, sampling klaster dapat dilakukan satu tahap (single stage). Misalnya, peneliti ingin meneliti karakteristik penduduk Desa Bojongsalam. Desa ini terdiri dari 12 RW. Dari daftar RW dipilih secara random 3 RW. Semua anggota pada 3 RW itu dijadikan sampel. Jika pada setiap RW dipilih hanya 4 RT saja secara random, maka kita melakukan sampel klaster banyak tahap (multistage).

Ada beberapa cara dalam menentukkan ukuran sampel, yaitu:
·    mengambil semua populasi yang dikenal dengan istilah sensus.
·    meniru ukuran sampel dalam penelitian yang sama.
·    menentukan prosentase sampling yang sesuai.
·    menggunakan Analisis Power Size.
·    menggunakan rumus Yamane (1967:886) yaitu n sama dengan N/(1+N*e2) dimana N adalah ukuran populasi dan e adalah margin error biasanya digunakan 3%, 5%, 7%, atau 10%.

REFERENSI
[1]  Narimawati, U., dan Munandar, D. 2008. Teknik Sampling: Teori dan Praktik dengan menggunakan SPSS 15 . Yogyakarta: Gava Media.
[2]  Yamane, T. 1967. Statistics, An Introductory Analysis, 2nd Ed., New York: Harper and Row.

0 komentar:

Poskan Komentar